Gue masih inget banget momen waktu pertama kali bikin CV. Laptop pinjem, template gratisan dari internet, dan foto hasil jepretan sendiri pakai HP di depan tembok kamar. Modalnya? Cuma ongkos print warna Rp5 ribu dan tekad yang agak goyah. Waktu itu gue bingung: mending langsung lamar kerja aja atau nunggu sampai "benar-benar siap" dulu?
Kalau kamu sekarang ada di posisi yang mirip, artikel ini buat kamu. Kita bakal bahas dua pendekatan yang sering bikin pemula galau: nekat lamar kerja versus nunggu sampai merasa siap. Dua-duanya punya konsekuensi, dan gue nggak akan bilang salah satunya sempurna.
Kenapa Pemula Sering Nunda Lamaran Kerja?
Jujur aja, alasan paling umum bukan karena males. Tapi karena takut. Takut ditolak, takut nggak bisa jawab pertanyaan wawancara, takut ketahuan "masih hijau". Gue pernah ngalamin ini. Berbulan-bulan gue buka lowongan, baca syaratnya, terus nutup lagi tab-nya sambil mikir "ah, nanti aja kalau udah lebih pinter".
Masalahnya, rasa "siap" itu nggak pernah datang sendiri. Nunggu skill sempurna sebelum lamar kerja itu kayak nunggu lampu hijau yang tombolnya nggak pernah kamu pencet. Kamu bisa stuck bertahun-tahun di fase persiapan tanpa pernah benar-benar masuk ke lapangan.
Baca juga: Pertanyaan Wawancara Kerja yang Bikin Kandidat Baik Gagal
Ada juga yang nunda karena modal. Mikirnya, "gue belum punya baju kerja yang oke", "belum punya transport", "belum bisa beli laptop". Padahal banyak perusahaan pemula justru nggak terlalu peduli sama hal-hal itu di tahap awal. Yang mereka lihat pertama kali ya CV dan cara kamu menjawab.
Nekat Lamar Kerja: Untung dan Ruginya
Pendekatan pertama ini simpel: kamu lihat lowongan yang kira-kira cocok, kirim lamaran, terus belajar dari hasilnya. Nggak nunggu sempurna.
Untungnya
- Cepat dapat feedback nyata. Ditolak itu juga informasi. Kamu jadi tahu bagian mana CV-mu yang kurang nendang.
- Latihan wawancara gratis. Tiap wawancara, gagal atau lolos, bikin kamu makin lancar ngomong. Ini nggak bisa didapat dari nonton tutorial doang.
- Modal kecil banget. Bikin CV pakai HP bisa, kirim lamaran online gratis, wawancara sekarang banyak yang via video call.
- Peluang kebetulan. Kadang rezeki datang dari tempat yang nggak kamu duga. Kamu nggak akan tahu kalau nggak nyoba.
Ruginya
- Bisa kena mental kalau ditolak berkali-kali. Ini nyata, jangan dianggap remeh.
- Kalau lamar sembarangan, reputasi bisa jelek di satu perusahaan. Jadi tetap baca lowongannya, jangan asal tembak.
- Kadang kamu masuk ke posisi yang nggak cocok dan jadi belajar hal yang salah.
Gue sendiri dulu sempat ngirim lamaran ke perusahaan yang jelas-jelas minta pengalaman 2 tahun padahal gue fresh graduate. Ditolak, tentu. Tapi dari situ gue belajar baca syarat lebih teliti, dan mulai fokus ke lowongan yang memang buka pintu buat pemula.
Nunggu Siap: Kapan Ini Masuk Akal?
Nunggu siap itu bukan selalu buruk, kok. Ada situasi di mana pendekatan ini justru lebih bijak. Misalnya kalau kamu mau masuk ke bidang yang memang butuh portofolio teknis dulu, kayak desain, programming, atau akuntansi. Nambah satu-dua bulan belajar serius bisa bikin peluangmu jauh lebih besar.
Yang bahaya itu bukan "nunggu siap", tapi "nunggu siap tanpa batas waktu".
Jadi kalau kamu pilih jalur ini, kasih tenggat yang jelas. Misalnya: "Dalam dua bulan gue mau selesai satu kursus online gratis dan bikin tiga portofolio kecil. Setelah itu, apa pun yang terjadi, gue mulai lamar." Dengan begitu, persiapanmu punya ujung, bukan jadi pelarian tanpa akhir.
Modal terbatas juga bukan penghalang besar di sini. Banyak kursus gratis di internet, komunitas belajar, dan template CV gratis. Yang mahal sebenarnya bukan modalnya, tapi kebiasaan menunda.
Jadi, Pilih yang Mana?
Kalau gue boleh jujur: buat pemula dengan modal dan waktu terbatas, nekat lamar kerja sambil tetap belajar biasanya lebih masuk akal. Kenapa? Karena proses lamar itu sendiri adalah sekolah yang paling cepat. Kamu belajar bikin CV, belajar jawab pertanyaan wawancara, belajar baca karakter perusahaan — semuanya sambil jalan.
Tapi bukan berarti kamu asal tembak. Ada beberapa hal yang sebaiknya kamu siapkan dulu walau minimalis:
- CV satu halaman yang jujur. Nggak perlu pengalaman banyak, tulis kegiatan organisasi, tugas kuliah, atau proyek kecil yang relevan.
- Latihan jawab tiga pertanyaan klasik: ceritakan diri kamu, kenapa tertarik posisi ini, dan kelebihan-kekuranganmu.
- Riset singkat perusahaan sebelum wawancara. Cukup 15 menit baca profil mereka.
- Siapin mental. Ditolak itu bagian dari proses, bukan vonis bahwa kamu nggak layak.
Kombinasi paling sehat menurut gue: mulai lamar sekarang ke lowongan yang realistis buat pemula, sambil tetap sisihkan waktu belajar tiap minggu. Jadi kamu nggak cuma nunggu, tapi juga nggak nekat buta. Dua pendekatan tadi sebenarnya nggak harus saling bertentangan.
Ingat, karier itu bukan sprint yang harus sempurna dari garis start. Lebih kayak jalan kaki naik bukit — pelan, kadang kepeleset, tapi yang penting terus melangkah. Modal terbatas dan waktu mepet itu nyata, tapi bukan alasan buat diam di tempat. Mulai dari yang bisa kamu mulai hari ini, sekecil apa pun itu.